Bagaimana sih cara menulis artikel ilmiah populer?
Apa kiat untuk menembus media massa?
Pertanyaan semacam ini sering diajukan oleh seseorang yang berminat untuk memulai menulis di media massa. Tidak hanya seorang mahasiswa bahkan profesor atau dosen senior pun tidak jarang mengalami artikel yang dikirimnya ke media massa ditolak. Yang pertama karena analisisnya terlalu "dangkal", sementara untuk kasus kedua disebabkan karena bahasanya terlalu "ilmiah" sehingga sulit dipahami oleh masyarakat yang awam akan bidang tulisan tersebut.
Tulisan singkat ini diharapkan dapat menjadi "tuntunan" bagi Anda yang berminat untuk memulai beramal ilmiah lewat tulisan ilmiah populer. Tentu saja tuntunan ini tidak akan efektif tanpa disertai upaya yang keras untuk belajar dan memulainya sejak kini. Kiat hangat-hangat tahi ayam nampaknya tidak laku untuk "ketrampilan" ini. Saya tidak berpretensi mengatakan saya sudah "jagoan" menulis, karena saya pun sampai detik ini masih belajar. Kendati demikian, barangkali pengalaman saya ada manfaatnya. Konon kata orang, "Pengalaman adalah guru yang paling baik, namun uang sekolahnya mahal". Ibaratnya, saya tidak pernah belajar teknik berenang, namun telah mencoba agar tidak tenggelam.
Bagi seorang pemula, memulai untuk menulis merupakan hal yang sulit. Namun, kalau menulis surat kepada pacar kok bisa lancar bahkan sampai berlembar-lembar ya? :)
Kegiatan menulis ibarat menciptakan suatu kebiasaan baru. Bagi Anda yang tidak biasa merokok, apabila Anda tiap hari menghisap satu batang rokok, dapat dipastikan dalam tempo satu bulan Anda sudah menjadi perokok. Demikian juga menulis. Witing bisa jalaran saka kulina. Artinya Anda akan bisa menulis apabila Anda sudah membiasakan diri (atau "memaksakan" diri untuk pemula) untuk menulis.
Tentu saja untuk menjadi seorang penulis yang baik dibutuhkan pemahaman akan teknik menulis. Seorang Maradona pun, belajar bagaimana teknik menendang dan mengolah bola yang efektif.
Menulis artikel ilmiah populer agak berbeda dengan menulis berita atau cerpen. Kalau Arswendo Atmowiloto mengatakan, "Mengarang (baca: cerpen atau karya fiksi) itu mudah". Saya lebih cenderung mengatakan, "Menulis (baca: artikel ilmiah populer) itu gampang-gampang sulit". Ini menuntut tidak hanya pemahaman akan masalah atau topik yang dibahas, namun juga cara pengungkapannya melalui bahasa ilmiah yang pas dengan selera pop. "Ia" akan menjadi gampang kalau kita sudah terbiasa melakukannya tetapi akan menjadi sulit bagi yang tidak tahu kiat dan teknik menulis artikel ilmiah populer.
Pertanyaannya kini: bagaimana kiat dan tahapan menulis artikel ilmiah populer?
Yang pertama adalah memilih topik yang mau kita tulis. Binatang yang namanya "topik" itu bisa kita cari di mana-mana. Bisa dari membaca surat kabar, membaca buku, ngobrol dengan teman di warteg, diskusi dalam forum resmi, seminar, atau mengamati keadaan suatu masyarakat.
Nah, kalau Anda sudah menangkap binatang yang namanya "topik" itu, mulailah menuangkannya dalam tulisan. Untuk pemula biasanya diperlukan menulis outline atau GBHN (Garis-garis Besar Haluan Nulis) mengenai apa yang mau kita tulis. Ini menyangkut: pendahuluan, uraian masalah, analisis masalah, solusi atau alternatif pemecahan masalah. GBHN akan sangat membantu agar tulisan kita sistematis. Sistematika akan memudahkan pembaca untuk memahami ide-ide yang kita tulis. Bagi penulis, sistematika juga akan memperlancar aliran ide yang hendak ditulisnya.
Menyusun pendahuluan dalam artikel ilmiah populer dapat menggunakan beberapa teknik. Yang pertama, bisa berupa kejadian atau isyu paling aktual saat ini. Atau bisa juga berupa pernyataan seorang pejabat/tokoh Anu yang barangkali menarik untuk dikaji lebih dalam esensi dan implikasinya. Yang penting di sini, pendahuluan harus mampu menarik minat pembaca untuk membaca lebih lanjut.
Setelah pendahuluan, Anda dapat langsung menukik pada inti masalah sekaligus analisis masalahnya. Penganalisaan masalah terserah penulis: apakah hanya bersifat informatif ataukah menyajikan suatu alternatif pikiran, ataukah solusi, atukah hanya menggugah aspek kepedulian pembaca? Tentu pada tahap ini pemahaman mengenai berbagai aspek dari masalah yang ditulis menjadi syarat mutlak. Untuk itu peranan data, teori, fakta, atau bahkan intuisi sangat dibutuhkan.
Tahap terakhir adalah editing. Tidak jarang tulisan yang menarik dan bagus dari sisi ilmiah tidak dapat dimuat oleh Redaksi. Ini pada gilirannya menghendaki penggunaan bahasa ilmiah yang populer. Artinya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus enak dibaca dan perlu. Karena itu pengeditan sangat membantu. Pengeditan akan semakin menyempurnakan bahasa yang kita gunakan. Anda bisa minta bantuan kepada rekan atau dosen Anda yang telah biasa menulis di media massa untuk tahap pengeditan ini. Atau kalau artikel tersebut ditujukan untuk konsumsi surat kabar, Anda bisa meminta adik Anda yang masih SMA untuk membacanya. Yang terakhir ini barangkali lucu bin aneh. Namun, percayalah, konsumen utama surat kabar adalah masyarakat awam yang rata-rata pendidikannya SMA.
Yang layak dicatat pada tahap editing adalah jumlah halaman dari artikel yang Anda tulis. Untuk konsumsi surat kabar, maksimum halaman berkisar antara 7-10 halaman, dengan asumsi diketik 2 spasi. Untuk konsumsi majalah atau jurnal, lebih longgar, bisa antara 15-40 halaman. Oleh karena itu, menulis di surat kabar diperlukan bahasa yang singkat, padat dan berisi. Kajiannya jangan terlalu ilmiah, namun jangan terlalu dangkal. Dengan bahasa Minggu Pagi: pokoknya enteng tetapi berisi. Bila Anda menulis untuk majalah atau jurnal ilmiah, analisis Anda dimungkinkan untuk lebih rigorous, lebih teknis, lebih banyak data dan teori. Di sini Anda dapat lebih berkreasi dan lebih dalam dalam menganalisis suatu masalah.
Tahap terakhir adalah mengirimkannya ke media massa. Dalam surat pengantar kepada Redaksi, Anda dapat melampirkan riwayat hidup singkat maupun status Anda saat ini. Pengalaman menunjukkan, Redaksi amat menghargai apabila kita sudah mempunyai pengalaman menulis atau pernah terlibat dalam dunia pers. Pengalaman menulis di pers kampus seperti majalah Ekonomika, Keadilan, Equlibrium, Balairung dapat dijadikan referensi. Apalagi kalau Anda pernah menjadi sebagai staf redaksi atau bahkan pemimpin redaksi suatu media.
Tahap terakhir tinggal menunggu lampau hijau dari Redaksi apakah memuat tulisan kita atau tidak. Ini membutuhkan waktu yang berkisar dari sehari hingga 3 bulan; tergantung kepada media mana Anda mengirim artikel. Untuk harian biasanya tenggang waktu menunggu berita pemuatan lebih cepat dibanding majalah atau jurnal ilmiah. Untuk surat kabar atau majalah berkaliber nasional, biasanya Redaksi secara otomatis akan mengirim kembali artikel Anda apabila tidak memenuhi persyaratan untuk dimuat dengan disertai alasan tidak layak muatnya. Untuk majalah atau jurnal ilmiah yang terbitnya bulanan atau triwulanan, Redaksi biasanya mengabarkan bahwa artikel yang kita kirim akan dimuat pada edisi tertentu.
Jangan putus asa apabila artikel Anda ditolak Redaksi. Anda dapat menyempurnakannya, dan kemudian mengirimkannya ke media lain. Tetapi ingat, jangan mengirim ke media lain sebelum ada pernyataan resmi (tertulis) dari Redaksi bahwa mereka menolak artikel kita.
Nah.. begitulah kiat dan teknik menulis artikel ilmiah populer. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi untuk memulai beramal ilmiah. Selamat mencoba dan berkarya! Do it now, or Never!
(sumber : Mudrajad Kuncoro, S.E., M.Soc.Sc./Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa/UII Yogyakarta, '93)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar